BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Aspirin
atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah suatu jenis obat dari keluarga
salisilat yang sering digunakan sebagai analgesik (terhadap rasa sakit atau
nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi. Aspirin juga
memiliki efek antikoagulan dan digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama
untuk mencegah serangan jantung.
Pada tahun 1853, seorang ahli kimia Perancis bernama
Charles Frederic Gerhardt berhasil menetralkan salicin alami menjadi asam
salisilat (salicylic acid) lewat penyanggaan (buffering) dengan natrium dan
asam asetat. Asam salisilat ini lebih "ramah" terhadap perut.
Kemudian di tahun 1899, seorang ahli kimia Jerman, bernama Felix Hoffmann, yang
bekerja bagi Bayer, menemukan kembali formula Gerhardt. Hoffmann membujuk Bayer
untuk memasarkan obat itu, yang selanjutnya muncul di pasar dengan nama pasaran
"Aspirin". Aspirin adalah obat pertama yang dipasarkan dalam bentuk
tablet. Sebelumnya, obat diperdagangkan dalam bentuk bubuk (puyer).
Pada praktikum
ini yang kita lakukan adalah mensintesis aspirin dari asam salisilat yaitu
dengan mereaksikannya dengan anhidrida asetat, dimana hal ini pertama kali
dilakukan oleh oleh Felix Hofmann dari perusahaan Bayer, Jerman.
B.
Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dari praktikum ini adalah
bagaimana pembuatan aspirin dengan metode asetilasi.
C.
Maksud Praktikum
Adapun maksud dari praktikum ini yaitu
mengetahui dan memahami sintesis aspirin dengan metode asetilasi.
D.
Tujuan Percobaan
Adapun
tujuan dari praktikum ini adalah melakukan sintesis
aspirin berdasarkan reaksi asetilasi antara asam salisilat dengan anhidrida
asetat.
E.
Manfaat Percobaan
Adapun
manfaat dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui reaksi-reaksi yang
terjadi dalam pembuatan aspirin.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Umum
Aspirin
adalah asam organik lemah yang unik
diantara obat-obat AINS dalam asetilasi (dan juga inaktivasi) siklo-oksigenase
irreversible. Aspirin cepat dideasetilasi oleh esterase dalam tubuh,
menghasilkan salisilat yang mempunyai efek anti-inflamasi, antipiretik dan atau
analgesik. Efek antipiretik dan anti-inflamasi salisilat terjadi karena
penghambatan sintesis prostaglandin di pusat pengaturan panas dalam hipotalmus
dan perifer di daerah target (Mycek, 2002).
Aspirin
bersifat analgesik yang efektif sebagai penghilang rasa sakit. Selain itu,
aspirin juga merupakan zat anti-inflammatory, untuk mengurangi sakit pada
cedera ringan seperti bengkak dan luka yang memerah. Aspirin juga merupakan zat
antipiretik yang berfungsi untuk mengurangi demam. Tiap tahunnya, lebih dari 40
juta pound aspirin diproduksi di Amerika Serikat, sehingga rata-rata penggunaan
aspirin mencapai 300 tablet untuk setiap pria, wanita serta anak-anak setiap
tahunnya. Penggunaan aspirin secara berulang-ulang dapat mengakibatkan
pendarahan pada lambung dan pada dosis yang cukup besar dapat mengakibatkan
reaksi seperti mual atau kembung, diare, pusing dan bahkan berhalusinasi. Dosis
rata-rata adalah 0.3-1 gram, dosis yang mencapai 10-30 gram dapat mengakibatkan
kematian (Austin, 1984).
Pembuatan
aspirin sintesis dapat dibagi menjadi dua, yaitu (Fessenden, 1990):
1.
Sintesa
Aspirin menurut Kolbe. Pembuatan asam salisilat dilakukan dengan Sintesis
Kolbe, metode ini ditemukan oleh ahli kimia Jerman yang bernama Hermann Kolbe.
Pada sintesis ini, sodium phenoxide dipanaskan bersama CO2 pada tekanan tinggi,
lalu ditambahkan asam untuk menghasilkan asam salisilat. Asam salisilat yang
dihasilkan kemudian di reaksikan dengan asetat anhidrat dengan bantuan asam
sulfat sehingga dihasilkan asam asetilsalisilat dan asam asetat.
2.
Sintesa
Aspirin Setelah Modifikasi Sintesa Kolbe oleh Schmitt.
Larutan sodium phenoxide masuk ke dalam revolving heated ball mill yang memiliki tekanan vakum dan panas (130 oC). Sodium phenoxide berubah menjadi serbuk halus yang kering, kemudian dikontakkan dengan CO2 pada tekanan 700 kPa dan temperatur 100 oC sehingga membentuk sodium salicylate. Sodium salicylate dilarutkan keluar dari mill dan lalu dihilangkan warnanya dengan menggunakan karbon aktif. Kemudian ditambahkan asam sulfat untuk mengendapkan asam salisilat, asam salisilat dimurnikan dengan sublimasi. Untuk membentuk aspirin, asam salisilat di reflux bersama asetat anhidrat di dalam pelarut toluene selama 20 jam. Campuran reaksi kemudian di dinginkan dalam tangki pendingin aluminium, asam asetilsalisilat mengendap sebagai kristal besar. Kristal dipisahkan dengan cara filtrasi atau sentrifugasi, dibilas, dan kemudian dikeringkan. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
Larutan sodium phenoxide masuk ke dalam revolving heated ball mill yang memiliki tekanan vakum dan panas (130 oC). Sodium phenoxide berubah menjadi serbuk halus yang kering, kemudian dikontakkan dengan CO2 pada tekanan 700 kPa dan temperatur 100 oC sehingga membentuk sodium salicylate. Sodium salicylate dilarutkan keluar dari mill dan lalu dihilangkan warnanya dengan menggunakan karbon aktif. Kemudian ditambahkan asam sulfat untuk mengendapkan asam salisilat, asam salisilat dimurnikan dengan sublimasi. Untuk membentuk aspirin, asam salisilat di reflux bersama asetat anhidrat di dalam pelarut toluene selama 20 jam. Campuran reaksi kemudian di dinginkan dalam tangki pendingin aluminium, asam asetilsalisilat mengendap sebagai kristal besar. Kristal dipisahkan dengan cara filtrasi atau sentrifugasi, dibilas, dan kemudian dikeringkan. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
2C6H5ONa + 2H2O 2C6H5OH +
2NaOH
Phenol Sodium Phenoxide
ONaC6H4COONa + C6H5OH 2C6H5ONa
+ CO2
Sodium salicylate
OHC6H4COOH + Na2SO4 ONaC6H4COONa
+ H2SO4
Asam salisilat
OHC6H4COOCH3 + H2O OHC6H4COOH
+ (CH3CO)2O
Asetat anhidrid Aspirin
Berdasarkan proses ini,
untuk menghasilkan 1 ton asam salisilat, dibutuhkan phenol 800 kg, NaOH 350 kg,
CO2 500 kg, Seng 10 kg, Seng Sulfat 20 kg, dan karbon aktif 20 kg.
Aspirin dalam bentuk tablet mengandung asam
asetilsalisilat 0,5 g. Dimaksudkan untuk mengatasi segala rasa sakit terutama
sakit kepala dan pusing, sakit gigi, pegal linu dan nyeri otot, demikin juga
pilek, indfluenza dan demam. Efek terapeutik aspirin, menghambat pengaruh dan
biosintesa dari pada zat-zat yang menimbulak rasa nyeri, demam dan peradangan
(prostaglandin, kinin), days keria antipiretik dan analgetik dari pada aspirin
diperkuat oleh pengaruhnya langsung terhadap susunan saraf pusat (Dirjen POM, 1979).
Efek samping aspirin yang sering terjadi adalah indikasi
tukak lambung atu tukak peptik yang kadang – kadang disertai anemia sekunder
akibat perdarahan saluran cerna (Tjay, 2002).
Salisilat
merupakan obat yang paling banyak digunakan sebagai analgesic, antipiretik, dan
anti-inflamasi. Aspirin dosis terapi bekerja cepat dan efektif sebagai
antipiretik. Dengan dosis ini laju metabolisme juga meningkat. Pada dosis
toksik obat ini justru memperlihatkan efek piretik sehingga terjadi demam dan
hiperhidrosis pada keracunan berat (Ganiswarna, 1995).
Asam asetil salisilat diabsorbsi cepat
dan mencapai suatu persentase yang tinggi setelah pemberian secara oral. Bagian
asetil sebagian sudah diuraikan pada jalur mukosa. Dalam hati, setelah
dihidrolisis ester lebih lanjut, terbentuk ester glukuronida dan eter
glukuronida serta glisinat (asam salisilurat) dari asam salisilat. Hanya
sebagian kecil yang dioksidasi menjadi asam gentisinat (Mustchler, 1991).
Pada pemberian
asam asetil salisilat bersama-sama dengan anti koagulan dan glukokortiroid,
bahaya perdarahan pada saluran cerna dipertinggi. Selanjutnya asam asetil
salisilat menaikkan kerja hipoglikemik, golongan sulfonylurea dan toksisitas
metotreksat. Di samping itu senyawa ini mengurangi kerja diuretic dari
diuretika jerat henle akibat penghambatan sintesis prostaglandin, serta
mengurangi efek urikosurika karena persaingan terhadap pembawa asam pada alat
tubuli ginjal (Mustchler, 1991).
Walaupun
asam salisilat memiliki banyak kegunaan, namun ada efek samping yang tidak
disukai yaitu menyebabkan iritasi pada lambung. Penelitian dilakukan untuk
menetralisir keasaman asam salisilat dengan natrium, dan dengan
mengkombinasikan natrium salisilat dan asetil klorida, namun usaha ini masih
belum berhasil. Baru pada tahun 1899, ilmuwan yang bekerja pada Bayer, Felix
Hoffman berhasil menemukan asam asetilsalisilat yang lebih ramah ke lambung.
Kemudian produk ini diberi nama aspirin, a- dari gugus asetil, -spir- dari nama
bunga spiraea , dan –in merupakan akhiran untuk obat pada waktu itu (Tjay,
2002).
B.
Uraian Bahan
1.
Asam Salisilat
(Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : ACIDIUM SALICYLICUM
Rumus kimia : C7H6O3
Sinonim : Asam salisilat
BM : C7H6O3
Rumus bangun :
O
C OH
OH
Pemerian :
Hablur ringan tidak berwarna atau serbukberwarna putih: hampir tidak berbau:
rasa agak manis dan tajam.
Kelarutan : Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95 %) P:mudah larut dalam kloroform P
dan dalam eter P:larut dalam ammonium asetat P,dinatrium hidrogenfosfat
P,kalium sitrat P dan natrium sitrat P
Titik leleh :
Suhu lebur antara 158,50 dan
1610
Kegunaan umum : Sebagai
anti fungi, keratolikum.
Kegunaan dalam praktikum : Sebagai bahan utama pembentuk metil
salisilat
2.
Asam Sulfat (Dirjen POM,1995)
Nama resmi : ACIDUM SULFURICUM
Sinonim : Asam sulfat
Rumus kimia : H2SO4
Berat Molekul : 98,07
Pemerian : Cairan jernih, seperti minyak, tidak
berwarna, bau sangat tajam dan porosity.
Kelarutan
: Bercampuran dengan air dan dengan etanol,
dengan menimbulkan panas.
Berat jenis : lebih kurang 1,84
Kegunaan
Umum : Sebagai zat tambahan
Kegunaan
dalam praktek : Sebagai katalisator
3.
Aquades (Dirjen POM, 1979)
Nama
Resmi :
Aqua destillata
Nama Lain
:
aquades, air suling
Rumus
Molekul : H2O
Berat
Molekul :
18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak
berwarna,
tidak berbau, tidak berasa
Penyimpanan
: Dalam
wadah tertutup rapat.
Penggunaan
: Sebagai
pelarut dan pencuci
4.
Anhidrida Asetat (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi :
Acidum acetic anhidrida
Nama Lain :
Asam asetat anhidrida
Rumus Molekul :
(CH3CO)2O
Rumus
bangun : O O
C C
CH3 O
CH3
Pemerian : Cairan
jernih tidak berwarna, berbau tajam, mengandung
tidak kurang dari 95 % C4H6O3
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai reaktan
5.
Aspirin
(Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Acidum acetylosalicylicum
Sinonim : Asetosal,
asam asetilsalisilat
Rumus kimia : C8H9O4
% Unsur penyusun : Asam asetilsalisilat mengandung tidak kurang dari 99,5% C9H8O4,
dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan
Titik lebur : 141o sampai 144oC.
Berat molekul : 180,16
Rumus bangun :
COOH
OCOCH3
Pemerian : Hablur tidak berwarna, hablur serbuk, tidak
berbau ,rasanya agak pahit.
Kelarutan : Agak sukar larut dalam etanol (95%)P larut
dalam iodoform P dan dalam eter P
Penyimpanan : Dalam
wadah tertutup rapat
Kegunaan : hasil
akhir dari sintesa
Khasiat : Analgetik
dan antipiretik
C.
Prosedur Kerja (Anonim, 2012)
Timbang
2,0 gram (0,015 mol) kristal asam salisilat dan sitempatkan dalam Erlenmeyer
250 mml. Tambahkan 5 ml (0,05 mol) anhidrida asetat, diikuti dengan 5 tetes
asam sulfat dari pipet tetes dan dikocok hingga asam salisilat larut. Panaskan
dipenangas air selama 5-10 menit. Lalu erlenmeyer didinginkan pada temperatur
kamar hingga dimana asam asetil salisilat
akan menjadi kristal dari campuran reaksi. Jika tidak gores dinding Erlenmeyer
dengan batang pengaduk dan cmpuran sedikit dingin dalam tangas es (wadah es) hingga kristal
terbentuk. Tambahkan 50 mlair dan dinginkan campuran dalam tangas es hingga
proses kristalisasi berlangsung sempurna.
Kumpul
hasil (kristal) secara penyaringan vakum menggunakan penyaring buchner.
Filtrate dapat digunakan. Cuci kristal beberapa kali dengan sedikit bagian air
dingin. Lanjutkan penarikan udara melalui kristal pada penyaring buchner secara
penyedotan (suction) hingga kristal bebas dari pelarut. Timbang dan hitung
hasil kasarnya.
Pemurnian :
Kedalam
masing-masing 3 bagian tabung uji yang mengandung 5 ml air dilarutkan sedikit
kristal dengan beberapa fenol, asam salisilat dan hasil kasar (kristal
aspirin). Tambahkan satu atau dua tetes larutan FeCl3 1 % ke
tiap-tiap tabung dan catat warna. Pembentukan kompleks besi fenol dengan Fe
(III) memberikan warna merah hingga violet, yang dipercaya bahwa partikel
phenol masih ada.
Pindahkan
padatan kasar kegelas piala 250 ml dan tambahkan 25 ml larutan natrium
bikarbonat jenuh. Aduk hingga tanda (bunyi) reaksi berhenti. Beberapa polimer
yang merupakan reaksi samping. Cuci
gelas piala dan corong dengan 5-10 ml air. Buat campuran 3,5 ml asam klorida pekat dan
10 ml air dalam gelas piala 100 ml. hati-hati menuang filtrate kedalam campuran
sambil diaduk. Aspirin akan diendapkan.
Dinginkan
campuran dalam es (tangas) saring padatan dengan penyedotan menggunakan
penyaring Buchner, tekan cairan ndari kristal dengan penutup bersih dan cuci
kristal dengan air dingin. Air yang digunakan dalam tahap ini asalah air es.
Tempatkan kristal pada gelas arloji untuk dikeringkan. Timbang hasilnya,
tentukan titik leburnya (135- 1360) dan hitung nilainya dalam
persen. Uji terhadap adanya asam salisilat yang tidak bereaksi menggunakan besi
(III) klorida.
Rekritalisasi
Air
tidak cocok sebagai pelarut untuk kristalisasi karena aspirin akan
terhidrolisis sebagian dengan pemanasan dalam air. Dilarutkan sedikit sampel
dari hasil akhir dalam sejumlah kecil benzene panas, campuran dipanaskan
dipenangas air. Jika masiuh ada padatan yang tersisa saring larutan panas dari
penyaring yang ditempatkan dalam corong
yang sebelumnya dipanaskan terlebih dahulu lalu menuangkan benzene panas. Pada
pendinginan pada temperature kamar, aspirin akan mengrekritalisasi. Jika tidak,
tambahkan petroleum eter dan dinginkan sedikit larutan (benzene membeku pada 5oC) dalam air es, sambil
digosok dinding gelas dengan menggunakan batang pengaduk.
Kumpulkan
produk (kristal) secara penyaringan vakum dengan menggunakan corong Hirsch.
Jangan lupa menguji kristal dengan FeCl3.
BAB III
KAJIAN
PRAKTIKUM
A.
Alat
yang dipakai
Adapun alat yang digunakan pada
percobaan kali ini adalah
batang pengaduk, batu didih, bulk, botol semprot, corong, erlenmeyer, gelas
arloji, gelas kimia, gelas ukur, penengas air, pipet volum, pipet tetes
dan wadah es.
B. Bahan yang digunakan
Bahan yang diguanakan pada percobaan ini adalah asam salisilat, asam asetat
anhidrat, asam sulfat pekat, aluminium foil, aquadest, es batu, FeCl3
, lap kasar, lap halus dan tissue.
C.
Cara
Kerja
Disipkan alat dan bahan yang akan digunakan kemudian itimbang asam Salisilat
diatas kertas timbang sebanyak 2 gram. Setelah itu dimasukkan kedalam erlenmeyer 250 ml. Kedalan erlenmeyer ditambahkan 2,5
ml anhidrat asetat disertai dengan
penambahan 3 tetes asam sulfat
dan dikocok hingga asam salisilat larut. Larutan
dipanaskan selama 15 menit kemudian didinginkan pada suhu kamar, kemudian dimasukkan didalam
wadah berisi es batu. Setelah
terbentuk Kristal, ditambahkan air sebanyak 50 ml. Kristal dikumpul dengan
menggunakan kertas saring melalui corong. Kristal
yang telah diperoleh diuji dengan larutan FeCl3 untuk membuktikan apakah dalam kristal masih
mengandung asam salisilat. Setelah
didapatkan kristal aspirin, maka kristal tersebut di keringkan dibawah sinar
matahari
selama beberapa menit. Setelah
kering maka ditimbang massa aspirin yang telah disintesaildan dilakukan penghitungan
rendamen.
BAB IV
KAJIAN HASIL PRAKTIKUM
A.
Hasil Praktikum
1. Tabel Pengamatan
No.
|
Penambahan zat
|
Perubahan
|
1
|
Asam salisilat ditambahkan anhidrida asetat
|
Larutan keruh
|
2
|
Penambahan asam sulfat pekat
|
Larutan jernih
|
3
|
Dipanaskan
|
Larutan keruh
|
4
|
Didinginkan
|
Terbentuk endapan Kristal putih
|
2. Perhitungan
1 mol asam salisilat setara dengan 1 mol
aspirin
Berat
aspirin hasil praktek adalah 1, 66 gr
3. Reaksi Kimia
O
C
O O
OH +
C C
OH CH3 O CH3
(Asam salisilat) (Anhidrat
asetat)
O
C
CH O CH3COOH H2SO4
O C (Asam asetat)
CH3
(Aspirin)
B. Pembahasan
Aspirin
merupakan salah satu bentuk aromatik asetat yang paling dikenal dapat disintesa
dengan reaksi esterifikasi gugus hidroksi fenolat dari asam salisilat dengan
menggunakan asam asetat. Sintesa asam asetil
salisilat berdasarkan reaksi asetilasi
antara asam salisilat dengan anhidrida
asetat dengan menggunakan asam sulfat pekat sebagai katalisator.
Asam asetat anhidrat digunakan pada praktikum ini karena asam asetat
anhidrat tidak mengandung air dan dengan mudah menyerap air sehingga dapat
mencegah atau menghindari terjadinya hidrolisis aspirin menjadi salisilat dan
asetat oleh air.
Asam sulfat pekat yang berfungsi sebagai katalisator ditambahkan pada
larutan campuran asam salisilat dengan asam asetat anhidrat. Dengan kata lain,
asam sulfat berfungsi untuk mempercepat terjadinya sintesa dengan cara
menurunkan energi aktivasi sehingga reaksi berjalan lebih cepat dan energi yang
diperlukan semakin sedikit.
Larutan asam salisilat yang telah tercampur sempurna kemudian dipanaskan
dengan bunsen. Pemanasan ini dilakukan dengan tujuan menghilangkan zat-zat
pengotor yang ada pada larutan sehingga menghasilkan aspirin dengan tingkat
kemurnian yang tinggi. Bukan hanya itu, pemanasan ini juga bertujuan
mempercepat kelarutan asam salisilat, dimana hal ini akan mempengaruhi laju
reaksi yang semakin cepat karena mempercepat gerak kinetik dari molekul-molekul
larutan tersebut.
Kemudian setelah pemanasan, larutan yang ada pada erlenmeyer didinginkan
pada suhu kamar selama beberapa menit. Lalu disiapkan baskom yang berisi es
batu atau air es dan dimasukkan erlenmeyer yang berisi larutan tadi ke dalam
baskom tersebut. Dibiarkan hingga larutannya membeku. Untuk mempercepat
pembentukan kristal aspirin, dilakukan penggoresan dengan batang pengaduk pada
dinding erlenmeyer.
Pada saat kristal apirin terbentuk, dilakukan penembahan 50 ml air. Hal ini
dilakukan agar reaksi pembentukan berjalan sempurna dan untuk menghidrolisis
kelebihan asam pada kristal aspirin.
Setelah itu, dilakukan penyaringan dengan kertas saring yang telah
ditimbang sebelumnya. Penyaringan ini dilakukan untuk mendapatkan kristal
aspirin yang terdapat dalam larutan. Kemudian kristal aspirin yang ada pada
kertas saring dikeringkan di oven selama beberapa menit dan setelah kering maka
ditimbang di timbangan analitik.
Pada praktikum sintesa aspirin terjadi suatu reaksi yang dinamakan
reaksi asetilasi. Pada reaksi ini terjadi pemutusan gugus hidroksi pada
asam-asam salisilat akan terlepas oleh gugus COCH3, sehingga akan
menghasilkan aspirin dan asam asetat.
Faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya keslahan dalam melakukan praktikum :
1.
Ketidakmurnian bahan-bahan yang digunakan.
2.
Kesalahan dalam penimbangan dapat mempengaruhi hasil yang
diperoleh.
BAB
V
KESIMPULAN
DAN SARAN
A. Kesimpulan
Adapun
kesimpulan dari hasil praktikum ini
adalah:
1. Berat
aspirin secara teoritis yaitu 2,56 gram.
2. Berat
aspirin dari hasil praktikum yaitu 1,66 gram.
3. % Rendamen
yang dihasilkan yaitu 64,84 %.
B. Saran
Diharapkan agar
para asisten dan praktikan menjalin komunikasi yang baik, agar terjalin kerja
sama yang baik pula antara asisten dan praktikan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Organik Sintetik. Fakultas
Farmasi, UMI: Makassar.
Austin, George T. 1984. Shreve’s Chemical Process Industries 5th ed. McGraw-Hill Book
Co. : Singapura.
Dirjen
POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes
RI: Jakarta.
Dirjen
POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI: Jakarta.
Fessenden, Ralph J. dan Joan S.
Fessenden. 1990. Organic Chemistry,
4th ed. Brooks/Cole Publishing Co. : Amerika.
Ganiswarna, Sulistia, G. 1995. FARMAKOLOGI DAN TERAPI EDISI 4. Fakultas
Kedokteran-Universitas Indonesia:
Jakarta.
Mutscler, Ernst, 1991. DINAMIKA
OBAT.Penerbit ITB,Bandung.
Mycek, Mary.J , 2001. FARMAKOLOGI ULASAN BERGAMBAR EDISI 2.
Widya Medika, Jakarta .
Tjay, dkk. 2002. Obat –
Obat Penting. PT. Elex Media.
Lampiran
SKEMA
KERJA
Ditimbang 2 gr asam
salisilat
Ditambahkan 2,5 ml Anhidrat
Asetat
Ditambahkan 3 tetes Asam
Sulfat Pekat
Dipanaskan 5-10 menit
Didinginkan dalam tangas Es
Gores dinding dengan batang
pengaduk
Tambahkan 50 ml air suling
Biarkan sampai terbentuk
kristal
Disaring dengan kertas
saring
Aspirin (residunya)
Ditimbang dan dihitung
rendamennya.
0 komentar:
Posting Komentar